Kembali ke BeritaArtikel

Kebakaran Hutan dan Lahan: Ancaman Nyata bagi Kelestarian Ekosistem dan Lingkungan Hidup Oleh: Muhammad Zainul Mutaqin Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Banjarmasin

Admin Pustakawan
4 September 2026
Kebakaran Hutan dan Lahan: Ancaman Nyata bagi Kelestarian Ekosistem dan Lingkungan Hidup Oleh: Muhammad Zainul Mutaqin Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Banjarmasin

OPINI – Setiap musim kemarau, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada persoalan yang seolah tidak pernah selesai, yaitu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peristiwa ini bukan hanya menghadirkan asap yang mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga menjadi ancaman serius terhadap kelestarian ekosistem dan lingkungan hidup.

Menurut saya, kebakaran hutan dan lahan tidak boleh lagi dipandang sebagai bencana musiman biasa. Karhutla merupakan krisis lingkungan yang dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Ketika api melalap kawasan hutan, yang hilang bukan hanya pepohonan, tetapi juga seluruh sistem kehidupan yang bergantung pada keberadaan hutan tersebut.

Hutan merupakan salah satu komponen terpenting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia karena mampu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup. Selain itu, hutan menjadi habitat bagi ribuan spesies flora dan fauna.

Dampak pertama yang paling nyata adalah hilangnya keanekaragaman hayati. Banyak satwa liar kehilangan habitat, sumber makanan, dan tempat berkembang biak. Tidak sedikit spesies yang mati akibat terjebak api maupun paparan asap. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan apabila terjadi pada kawasan konservasi yang menjadi rumah bagi satwa langka dan dilindungi.

Selain merusak habitat satwa, kebakaran juga berdampak besar terhadap kualitas tanah. Api yang membakar vegetasi menyebabkan hilangnya unsur hara yang terkandung dalam tanah. Akibatnya, tanah menjadi kurang subur dan rentan mengalami erosi.

Karhutla juga mengganggu siklus hidrologi atau siklus air. Hutan yang sehat memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air hujan sehingga dapat menjaga ketersediaan air sepanjang tahun. Ketika tutupan hutan berkurang akibat kebakaran, kemampuan tersebut ikut menurun.

Dari perspektif perubahan iklim, kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang signifikan. Saat pohon dan vegetasi terbakar, karbon yang selama ini tersimpan dilepaskan ke atmosfer dalam jumlah besar. Emisi tersebut mempercepat pemanasan global.

Kabut asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan juga menjadi bentuk pencemaran udara yang sangat berbahaya. Asap mengandung partikel halus yang dapat masuk ke sistem pernapasan manusia serta mengganggu keseimbangan lingkungan.

Persoalan yang membuat saya prihatin adalah fakta bahwa kebakaran hutan dan lahan masih terus berulang setiap tahun. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan belum berjalan secara optimal. Karena itu, penanganan karhutla harus lebih menekankan pada upaya pencegahan daripada sekadar pemadaman.

Tidak kalah penting adalah upaya rehabilitasi lingkungan pascakebakaran. Reboisasi dan pemulihan ekosistem harus dilakukan secara serius agar fungsi ekologis hutan dapat kembali pulih.

Pada akhirnya, kebakaran hutan dan lahan merupakan ancaman nyata terhadap kelestarian ekosistem dan lingkungan hidup. Menjaga hutan berarti menjaga keseimbangan alam, menjaga kualitas lingkungan hidup, dan menjaga masa depan kehidupan manusia itu sendiri.

#Opini

Artikel Terkait